Tampilkan postingan dengan label alhikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alhikam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Desember 2007

Ulama Yang Tolol, Dan Si Tolol Yang Alim

Anda berguru atau mencari sahabat orang bodoh yang tidak menuruti hawa nafsunya, lebih baik daripada berguru pada orang ‘alim yang merelakan dirinya untuk mengikuti hawa nafsunya. Lalu ilmu macam apa yang ada pada Ulama (cendekiawan) yang menuruti hawa nafsunya? Dan disebut kebodohan yang mana, jika orang itu tidak menuruti hawa nafsunya?

Inilah etika kita berguru atau bersahabat dengan seseorang, mestinya harus selektif agar berpengaruh positip dalam keseharian kita. Banyak orang pandai, alim, intelektual, tetapi sepanjang kepentingan-kepentingan dirinya lebih menonjol, sama sekali tidak patut untuk kita ikuti. Tidak peduli apakah dia ustadz, Kyai, cendekiawan muslim, ataukah seorang syeikh, manakala ia masih menuruti kepentingan nafsunya, sangat tidak layak untuk diikuti jejaknya.

Kepentingan nafsu itu seringkali justru dijadikan umpan syetan untuk berselingkuh dengan ilmu pengetahuan, kebenaran, agama, dan hal-hal yang suci. Artinya, mereka yang berselimutn kesucian, keulamaan, kecendekiawanan, jika masih menuruti hawa nafsunya, seperti popularitas, riya’, takjub diri, ingin dipuji, takabur, egois, berarti ia tetap saja seorang yang bodoh.

Sebaliknya sama sekali tidak bisa disebut orang bodoh, jika seseorang mampu mengekang hawa nafsunya, kepentingan dirinya, egoismenya, iri dengkinya, walau pun ia tampak seperti orang bodoh, hakikatnya ia adalah orang yang pandai. Karena betapapun hebat ilmu seseorang, sepanjang ia masih senang dengan hawa nafsunya, ia tidak akan pernah menyelamatkan kita dunia hingga akhirat.

Hamba Allah yang mampu mengekang nafsunya, walau pun ia bodoh, pasti memiliki tiga karakter:

1. Sadar dirinya.
2. Tawadlu’ (rendah hati) pada sesama.
3. Mencari kebenaran dengan jujur.

Menurut Ammar, ra, jika tiga perkara berkumpul pada diri seseorang, maka ia telah benar-benar mengakumulasi keimanannya: Sadar diri, menyiramkan kedamaian bagi semesta, dan menginfakkan hartanya walaupun ia miskin.”

Siapa yang mensahabati manusia model ini, ia akan mendapatkan tiga hal pula: Meraih kebajikan-kebajikan tersebut sebagai anugerah, karena seseorang itu sangat erat kaitannya dengan keyakinan agama sahabat dekatnya. Ia juga meraih rasa ringan dalam hatinya, dan mendapatkan keselamatan dunia dan agamanya.

Sementara orang yang rela dengan hawa nafsunya, akan melahirkan tiga sifat negatif. Kesombongan, tidak sadar dirinya dan aktif dengan rasa kebanggaannya. Bersahabat atau berguru pasdanya bisa melahirkan tiga hal pula: Menjadi budaknya, memayahkan diri dan terputus (tidak sampai tujuannya)putus akhirnya. Karena ia mengklaim kebenaran dirinya, yang sesungguhnya tidak layak. Karena itu ia tidak akan sampai meraih Ridho Allah,tidak mendapatkan ampunan Allah, bahkan tidak mau kembali dalam segala hal kepada Allah. Karena ia ia tidak layak untuk dikasihi.

Kalau kebetulan ia seorang yang ‘alim atau intelektual muslim, maka ilmu pengetahuannya justru akan memperburuk kepribadiannya,. Sebaliknya kalau ia bodoh, maka kebodohannya menjadi bencana baginya dan bagi sahabatnya. Kalau dia pemimpin, sama sekali kepemimpinannya tidak bermanfaat bagi dunia, agama dan akhirat. Karenanya, Sahl bin Abdullah menegaskan, “Jauhi tiga kelompok manusia: Para pembaca Al-Qur’an yang penuh dengan gaya pamer; orang-orang Sufi yang bodoh dan orang-orang diktator yang alpa dengan dirinya sendiri.”

Padahal seorang sahabat itu diharapkan memberikan tiga hal: Nasehat, Kasih sayang dan pertolongan.

Hakikat kebodohan itu sendiri beredar pada tiga hal.
1) Lari dari kebenaran
2) Mengikuti kebatilan
3) Memutuskan aturan dengan cara yang salah.

Inilah yang akan menimpa orang yang rela menuruti hawanafsunya. Sebaliknya, hakikat pengetahuan (ilmu) juga beredar pada tiga hal:
1) Beramal dengan benar
2) Menjauhi kebatilan
3) Memberikan porsi dengan kelayakannya.

Ketiga hal terakhir ini tentu tidak akan dijumpai kecuali pada mereka yang tidak rela pada nafsunya.

Husnudzon Kepada Allah

Jika saja anda tidak mampu berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah melalui keMaha Indahan sifat-sifatNya, maka berbaiksangkalah kepada Allah karena adanya anugerah mu’amalah Allah yang menyertai anda. Bukankah Allah telah mengembalikan diri anda, melainkan pada kebajikan? Dan bukankah Allah telah melimpahkan kepada anda , melalui pintu anugerahNya?

Husnudzon atau berbaik sangka kepada Allah, merupakan salah satu dasar utama kita membangun hubungan dengan Allah Ta’ala. Banyak hamba-hamba Allah yang menggugat Allah atas taqdir yang diterima dengan rasa pahit, lalu ia menggedor-gedor langitNya, agar dibuka pintu anugerah yang sesuai dengan selera si hamba ini.

Tetapi Ibnu Athaillah as-Sakandaru begitu jeli memandang soal Husnudzon kepada Allah ini, karena banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan psikologis ketika harus berbaik sangka kepada Allah terutama jika si hamba Allah ini tertimba takdir yang dirasakan tidak sesuai dengan keinginannya.

Di sinilah kita harus belajar Husnudzon kepada Allah melalui sifat keMaha Indahannya atas semua yang telah dilimpahkan kepada kita. Ketika seseorang terhalang untuk meraih apa yang diinginkannya, lalu terganjal di sana, ia protes kepada Allah. Protes ini muncul semata karena si hamba tidak bisa melihat hikmah dan keindahan Sifat Allah yang menyertai kegagalan itu. Padahal kegagalan itu adalah pemberian yang luar biasa, jika kita bisa memahaminya.

Namun untuk memahaminya juga tidak mudah. Oleh sebab itu, si hamba diarahkan, jika gagal memahami keMaha Indahan sifat Allah, minimal ia harus memahami melalui husnudzonnya kepada Allah atas anugerah yang selama ini dilimpahkan kepada hamba melalui amaliyah ibadahnya. Bahwa seorang hamba bisa beribadah, bisa berbuat baik, itu semua tidak lepas dari anugerah Allah. Tanpa anugerahNya, kita tidak bisa bekerjasama dengan Allah Ta’ala.

Bahkan Ibnu Athaillah menegaskan, bahwa semua yang terjadi ini, senantiasa kembali demi kebajikan kita semua. , dan segala yang berinteraksi dengan seluruh kehidupan kita sesungguhnya adalah anugerah Ilahi semata.

Kalau kita renungkan sejenak: Kita ini ada di dunia ini karena Dia, dan karena kebaikan dan anugerahNya pula. Kita diwujudkan dari situasi dan kondisi tidak ada, lalu menjadi ada. Kemudian Allah masih terus melimpahkan kita dengan kemuliaan, kenikmatan, dan kita dijadikan sebagai hamba beriman. Bahkan harus kita syukuri kita dijadikan sebagai manusia. Coba, seandainya kita ditakdirkn jadi binatang atau batu??

Kategori manusia berhusnudzon kepada Allah itu ada tiga:

Pertama, Husnudzon kepada Allah karena keagungan dan keindahan SifatNya.
Kedua, Husnudzon kepada Allah karena IhsanNya, atau kebajikanNya.
Ketiga, Husnudzon kepada Allah karena dua-duanya. Dan perilaku jiwa demikian ini, lebih sempurna dari kedua hal di atas.

Karena itu Rabiah Adawiyah sampai bersyair:

Cintaku kepadaMu terbagi dua
Cinta Asmara, dan Cinta karena Engkau layak Dicinta
Cinta Asmaraku padaMu, adalah kesibukanku mengingtatMu
Dan mengabaikan hatiku dari selain DiriMu.
Sedang Cinta yang Engkau layak Dicinta
Adalah tersingkapnya tiraiMu untukku
Hingga aku terus memandangmu
Lalu tak ada puja di sana
Tak ada pula di sini bagiku
Tetapi hanya kepadaMu Puja itu
Di sana
Dan disini.

Indah nian kata Rabiah. Semua itu karena Husnudzonnya kepada KekasihNya. Sebab apa saja yang dipandang dari kehidupan ini, tidak lain adah rasa CintaNya, Anugerah Kasih SayangNya kepadanya. Apa saja, dan dimana saja….