Pertama kali kita harus mendefinisikan apa arti pedhopilia dan kemudian kita masukkan apakah Muhammad SAW termasuk dalam kategori tersebut atau tidak
"Pedofile : juga dapat disebut Pedofilia, penyakit kejiwaan seksual, dimana seorang dewasa distimulasi atau kepuasan seksual yang muncul dasarnya melalui hubungan seksual dengan anak-anak yang belum masuk masa puber. Tipe pedofilia tidak dapat menemukan kepuasan ketika melakukan hubungan seksual dengan sesama orang dewasa dan mungkin mempunyai penghargaan terhadap seseorang yang rendah, Melihat melakukan hubungan seksual dengan anak-anak lebih sedikit ancaman dibandingkan berhubungan dengan orang dewasa."[14]
Dari definisi diatas maka kita dapat simpulkan seorang pedofilia tidak mungkin mencapai kepuasn seksual dengan orang dewasa, bagaimana dengan Rasulullah Saw ?, Rasulullah Saw mempunyai 13 orang istri, stu orang dinikahi pada usia 50 tahun (Sauda Bint Zama), satu orang dinikahi pada usia 40 tahun (Khadija bint khawilad), 4 orang dinikahi dengan usia lebih dari 30 tahun (Zainab bint Khuzaima, 30 tahun; Zainab Bint Jahash,38 tahun; Umm-I-Habiba bint Abu Sufyan, 36 tahun; Maimuna bint harith, 36), tiga orang dinikahi pada usia lebih dari 20 tahun (Hafsa Bint Umar bin Khattab,22 tahun; Umm-I-Salma bint Abu Umayia, 26 tahun; Juwaeria Bint Harith, 20 tahun), dan 2 orang dinikahi pada usia 17 tahun (Marya Qibtiya bint shamun,Safia bint Hayi bin Akhtab), dan Aisyah yang dinikahi pada usia 9 tahun.[15] Jadi apakah Rasulullah Saw seorang pedofilia, sebab beliau menikahi semua istrinya bukan pada usia anak-anak, kecuali Aisyah itupun berkumpul dengan Rasulullah Saw ketika memasuki usia puber atau baligh.
"pe.do.phil.ia n [NL] (1906): kelainan seksual dimana anak-anak lebih menjadi obyek seksual."[16]
Dari definisi kedua kita mendapatkan bahwa yang dimaksud dengan pedofilia adalah menjadikan anak-anak menjadi obyek seksual, sekarang mari kita simak apa arti anak-anak menurut kamus
child (ch؛ld) n., pl. chil·dren (ch¹l“dr…n). Abbr. ch. 1. seseorang yang berada diantara masa kelahiran dan masa puber.[17]
Kita sudah membahas masa puber dan kita juga sudah membahas masalah Aisyah yang baru berkumpul dengan Rasulullah Saw setelah memasuki masa puber, artinya ada jeda waktu beberapa tahun setelah pernikahan Rasulullah dengan Aisyah artinya Rasulullah baru berhubungan seksual dengan Aisyah ketika memasuki masa puber ini berarti Rasulullah Saw bukan seorang pedofilia sebab tidak berkumpul dengan Aisyah walaupun secara adat masyarakat waktu itu pernikahan beliau dianggap sah.Jeda waktu juga membuktikan bahwa Muhammad Saw bukanlah seorang pedofilia sebab seseorang yang memiliki penyakit pedofilia tidak dapat mengontrol dirinya terutama dengan berhubungan seksual dengan anak-anak
"Tidak adanye kontrol terhadap dorongan dari dalam diri.Pedhopilia sangat sulit untuk menghadapi dorongan didalam dirinya yang memiliki kecenderungan melakukan hubungan seksual dengan anak-anak.Mereka juga amat mudah untuk tidak mengontrol keinginannya dalam melibatkan anak-anak dalam pratek hubungan seksual.”[18]
jika memang benar Muhammad Saw seorang Pedhopilia maka buat apa dia menunggu dengan waktu yang begitu lama (muslim dan Bukhari mengatakan sampai 3 tahun, thabari 2 tahun) untuk mengajak Aisyah untuk hidup bersama Rasulullah saw. Sebab tidak mungkin seorang yang mengidap Pedhopilia menunggu waktu yang lama untuk berhubungan seksual dengan seseorang karena tekanan hasrat seksual yang begitu tinggi didalam dirinya.
masa menunggu Muhammad Saw juga dapat dikatakan bahwa beliau menunggu masa pubersitas Aisyah yang berarti adalah masa kedewasaan Aisyah, yang juga berarti bahwa Aisyah memasuki usia dewasa ketika menikah dengan Rasulullah Saw.Orientalis yang bernama Karen amstrong menggambarkan dengan tepat keadaan ini dengan mengambil kesimpulan tidak hanya berdasarkan umur akan tetapi kesiapan Aisyah untuk menikahi Rasulullah saw.
Tabari mengatakan bahwa usia Aisyah sangat muda ketika ia berada dalam rumah orangtuanya, dan pernikahannya baru dilaksanakan ketika ia berada pada masa puber.[19]
Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah Saw merupakan kekerasan terhadap anak-anak ?
Setelah kita membahas tentang pedofilia, maka tuduhan yang berkaitan dengan hal itu menjadi penting dibahas seperti tuduhan bahwa Rasulullah Saw melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak, untuk itu mari kita merujuk lagi kepada encyclopedia encarta apa yang dimaksud dengan kekerasan terhadap anak.
Kekerasan terhadap anak, juga disebut sebagai perlakuan kejam terhadap anak, dengan sengaja dan tidak dapat dimaafkan mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan pada anak-anak. Kata ini juga bisa digunakan untuk banyak sekali penyiksaan fisik, kekerasan secara verbal yang tidak dapat dibenarkan, kegagalan untuk memberikan perlindungan yang pantas, makanan, perawatan kesehatan, atau dukungan emosional, incest, pada kasus lain penganiayaan seksual, atau pemerkosaan, dan membuat pornografi anak. Sering digambarkan oleh ahli medis sebagai "battered-child syndrome," kejamnya perlakuan terhadap anak hampir secara mnyeluruh dilarang oleh undang-undang criminal. Kekerasan anak dapat mempunyai konsekuensi serius dimasa depan dari korban yang terkena. Lambatnya perkembangan fisik, gangguan berbahasa dan kemampuan kognitif, dan gangguan dari perkembangan kepribadian, belajar, dan tingkah-laku umumnya segera mengikuti dari kekerasan anak atau pengabaian.[20]
Setelah melihat definisi kekerasan terhadap anak pantaskah Rasulullah Saw kita masukkan kedalamnya?, kita mungkin bisa tidak sependapat tentang definisi kekerasan terhadap anak, tapi kita hampir dipastikan memiliki kesepakatan terhadap apa akibat yang ditimbulkan dari kekerasan terhadap anak. Pertanyaan bagi kita sekarang adalah, apakah Aisyah Ra mempunyai sifat-sifat seorang korban dari kekerasan seorang anak ?, apakah Aisyah memiliki permasalahan mengenai kecerdasannya, tingkah laku dia dimata para sahabat, apakah Aisyah memiliki kelainan seperti itu?. Jika ,kita memang ingin jujur maka jawabannya adalah tidak sama sekali, Aisyah adalah orang yang sangat aktif dimasyarakat Islam pada waktu itu, dia menjadi ibu kaum muslimin dan segala tingkah lakunya menjadi contoh teladan masyarakat muslim sampai sekarang. Mengenai kecerdasan Aisyah, tentu saja kita tidak dapat memungkiri bahwa pemikiran Aisyah menjadi salah satu rujukan dari sahabat diwaktu itu, beliau sendiri termasuk dari empat orang sahabat yang meriwayatkan hadits terbanyak selain Abu Hurairah, Ibnu Umar dan Anas bin Malik, beliau meriwayatkan tidak kurang dari 2210 Hadits dan 174 Hadits yang diriwayatkannya masuk kedalam kitab shahih hadits Bukhari dan Muslim. Dari dua faktor ini Aisyah bukan korban dari kekerasan terhadap anak oleh karenanya Rasulullah Saw bukan pelaku tindak kekerasan terhadap anak
Pubertas = Kedewasaan = Waktu menikah
Catatan sejarah tentang kebudayaan masa lalu memperlihatkan bahwa pernikahan dilakukan ketika seseorang mencapai masa pubersitas adalah sesuatu yang niscaya.
Hampir semua kebudayaan terdahulu memberikan perhatian mengenai pubertas dan ritual pernikahan, walaupun secara umum ada tedensi untuk lebih memperhatikan pubertas laki-laki daripada perempuan. Karena pubertas dan pernikahan merupakan simbol anak tersebut siap untuk memperoleh kehidupan dewasa.[21]
Wanita menikah segera setelah mencapai pubersitas.[22]
Bahkan Umat yahudi dan kristen juga melakukan hal yang sama terhadap anak gadis mereka.
Penganten wanita diambil dari lingkungan keluarga besar ( biasanya pada saat memasuki usia puber atau sekitar umur 13 tahun) didalam menjaga kemurnian garis keluarga.[23]
Harus menjadi catatan bahwa bagaimanapun juga wanita menikah dimasa biblical pada usia dini.[24]
Maria mengandung pada usia 12 tahun.[25]
Hal ini kemudian berlanjut ketika gereja menikahkan seorang wanita pada usia 12 tahun di rumania.[26]
Di Amerika pada akhir abad yang lalu, batas izin pernikahan adalah 10 tahun, California adalah negara bagian pertama yang mengganti batas izin pernikahan menjadi 14 tahun, yang dilakukan pada tahun 1889, setelah California, negara bagian lainnya bergabung dan menaikkan batas izin pernikahan juga.[27]
Catatan yang sama pada situs tersebut juga memperlihatkan bahwa prancis baru meningkatkan izin usia pernikahan daru 11 tahun menjadi 13 tahun pada satu abad yang lalu, bahkan inggris baru pada tahun 1929 meninggalkan hukum yang berdasarkan pada budaya kristen kuno yang mengizinkan seorang wanita menikah pada usia 12 tahun.
Perbedaan dalam menilai sejauh mana kedewasaan seseorang yang ditentukan dalam batasan usia pada masa sekarang adalah sangat berbeda dengan proses kematangan seseorang pada masa terdahulu. Saya ingin mengambil satu contoh yang amat simpel dari sejarah kenabian yaitu dimana usamah bin zaid bisa memimpin pasukan perang dan memikul tanggungjawab yang amat besar pada usianya yang baru menginjak 17 tahun[28] bisakah kita membandingkan usia Usamah dengan anak muda usia 17 tahun dimasa sekarang?, tentu saja kita akan mengalami kesulitan sebagaimana kita akan menemui kesulitan dalam menentukan kapan dan bagaimana seseorang dapat dikatakan dewasa apabila kita mengambil batasan usia sebagai patokan utama.
Persoalan selanjutnya apakah perbedaan usia antara Muhammad Saw dengan Aisyah yang begitu jauh adalah salah secara moral?. Jawabannya adalah Aisyah dinikahi Muhammad saw secara sah dan setiap pernikahan bukan hanya berujung pada hubungan seksual semata akan tetapi bagaimana adanya pengertian dan hubungan yang baik dalam komunikasi antara keduanya dalam menjalankan bahtera pernikahan tersebut.
Ketika perbedaan usia jauh, umpamanya melewati limabelas sampai duapuluh tahun, hasilnya mungkin lebih membahagiakan.Pernikahan orang yang lebih tua dan tentu saja laki-laki yang tua yang menikahi wanita yang sangat muda,seringkali lebih sukses dan lebih harmonis.[29]
Hal inilah yang menyebabkan Rasulullah saw lebih banyak bersabar kematangan usia rasulullah saw telah membawa Aisyah sebagai wanita yang paling banyak meriwayatkan hadits dibandingkan dengan sahabat-sahabat lainnya ribuan hadits telah didokumentasikan atas nama Aisyah didalam kitab kitab hadits, bisakah seorang korban pedhopilia melakukan hal ini, seorang korban pedhopilia biasanya akan mengalami goncangan psikologi yang menyebabkan adanya gangguan emosional dalam tindakan dancara berpikirnya, adakah hal ini terdapat dalam disi Aisyah, adakah diantara kaum misionaris dan orientalis yang mengatakan bahwa Aisyah adalah korban dari pedhopilia membantah hal ini?. Jawabannya adalah Aisyah adalah muslimah terbaik yang dilahirkan oleh sosok besar Muhammad saw dan tidak ada seorangpun meragukan hal itu akan tetapi bagaimana mereka bisa mengatakan bahwa hubungan rasulullah saw dan Aisyah ra adalah suatu penindasan terhadap Aisyah, bahkan mencari-cari alasan yang seakan-akan ilmiah untuk mendukung pendapat mereka tanpa menghiraukan hubungan yang harmonis diantara keduanya, dan tanpa menghiraukan standar nilai yang melegalkan seorang wanita berhubungan dengan seorang laki-laki tanpa menikahinya dan meninggalkan keturunan tanpa laki-laki itu bertanggungjawab terhadap kebutuhan financial dan emosional sang anak, atau bahkan melegalkan pembunuhan anak tersebut sebelum ia keluar dari kandungan dan menyusahkan keduanya, dengan alasan "hei kita cuman bersenang senang; dan apabila saya hamil itu bukan kehendak saya, dan apabila bukan kehendak saya maka sebaiknya lenyapkan saja", maka kami juga berhak bertanya kepada anda standar nilai apa yang hendak paksakan kepada kami?.
Atau jika kalian adalah seorang yang memakai satandar nilai kristiani maka lihatlah standar nilai yang ada dikitab suci kalian, dan perbandingkanlah dengan standar nilai yang kami miliki.
Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu. (Bilangan: 31:17-18)
Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar. (Keluaran 21:7)
Maka temukan jawabannya bahwa Islam adalah standar nilai yang terbaik yang bisa dibandingkan dengan segala sistem nilai yang anda temukan dimuka bumi ini.
Wallahu A'lam Bishawab.
[14] Encyclopedia Britannica, 1998
[15] The Prophet of Islam, the Ideal Husband, by Syed Abu Zafar Zain, Kazi Publications, Lahore, Ist Ed., pg. 10-12
[16] Merriam Webster’s Collegiate Dictionary
[17] American Heritage Dictionary
[18] Understanding the Pedophile Psyche, courtesy of the Police Federation of England & Wales
[19] Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet, Harper San Francisco, 1992, page 157
[20] Encyclopedia Britannica, 1998
[21] "primitive cultures", An Overview of the World's Religions
[22] "Central Africa", The New Encyclopaedia Britannica, 15th Edition (1987), Volume 15, page 646. See also "Aboriginal Australia", The New Encyclopaedia Britannica, 15th Edition (1987), Volume 14, page 425. For additional references to the marriage customs in Biblical times, see Israel: Its Life and Culture, by Johannes Pedersen, Volume 1, page 60ff
[23] Ancient Israelite Marriage Customs, by Jim West, ThD
[24] Gerald Sigal, The Jew and the Christian Missionary, Ktav Publishing House,1981, page 28
[25] "Oxford Dictionary Bible" commentary
[29] Theodor H. Vandevelde, Ideal Marriage : Its Physiology and Technique, Greenwood Publishing Group, 1980, p. 243.
Blog ini copy paste dari site tetangga ^_^
sukron ...
BalasHapusdasar muslem, bilangnya org motong2 ayat sendirinya kalo ngambil juga asal. itu ayat bilangan ada pendahuluannya blok, itu dimaksudkan ke perempuan2 dalam peperangan melawan bangsa Midian yg diperintahkan Tuhan pada Musa, yang mana perempuan2 itu dikatakan bersalah memalingkan orang Israel dari Tuhan.
BalasHapusnih ayat sebelumnya slim, sengaja gak ditulis ya buat nuduh?
15 dan Musa berkata kepada mereka: "Kamu biarkan semua perempuan hidup?" 16 Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap Tuhan dalam hal Peor sehingga tulah turun ke antara umat Tuhan.
dan yang namanya MENYETUBUHI anak usia 9 TAHUN itu dimana2 namanya pedofil, gak usah muter2 cari pembenaran dan kebohongan buat bikin itu jadi bukan.