Hadits-hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Ibnu Araby, melalui jalur sanad tokoh-tokoh hadits terbaik, yang diakui oleh para perowi hadits. Cahaya Sufi menurunkan empat puluh (40) hadits Qudsy, sebagai tabarrukan (dalam rangka mengharapkan barokah dari Allah Ta'ala). Pihak redaksi tidak memuat seluruh perowi hadits hingga sampai kepada Rasulullah SAW, mengingat panjangnya jumlah para perowi. Dalam Kitab aslinya yang berjudul Misykatul Anwar, setiap satu hadits, selalu dicantumkan seluruh perowi mulai dari Ibnu Araby, sampai ke sahabat Nabi SAW. Maka redaksi Cahaya Sufi hanya mengutip teks haditsnya saja:
Hadits ke 1
Dari Nabi SAW, meriwayatkan dari Allah Tabaaroka wa-Ta'aala:
"Wahai hambaKu sesungguhnya Aku haramkan kezaliman atas diriKu, dan kujadikan diantara kalian sebagai tindakan haram, karena itu janganlah kalian saling menzalimi.
Wahai hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepadaKu, Aku akan memberi hidayah kepadamu.
Wahai hambaKu… Kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, karena itu mintalah makan kepadaKu, Aku akan memberimu makanan.
Wahai hambaKu …Kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian dariKu, Aku akan memberikan pakaianmu.
Wahai HambaKu.. Sesunggunhya kalian berbuat salah di malam hari dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni semua dosamu, maka mohonlah ampunan kepadaKu, niscaya aku mengampunimu.
Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian belum sampai pada penderitaan dariKu, maka mohonlah agar dijauhkan dari penderitaan dariKu…Dan kalian belum sampai meraih manfaatKu, maka mintalah manfaat dariKu.
Wahai hambaKu, jika saja dari generasi awal dan akhirmu, manusia dan jin diantaramu, dikumpulkan dalam ketaqwaan seseorang (lalu semuanya sangat bertaqwa kepadaKu) maka semua itu tidak akan menambah sedikitpun KerajaanKu.
Wahai hambaKu…Jika saja generasi awal dan akhir baik dari manusia dan Jin berada dalam satu hati seorang yang serong (lalu semuanya jadi serong kepadaKu) maka sama sekali tidak akan mengurangi sedikit pun KerajaanKu.
Wahai hambaKu..Jika generasi awal hingga akhirmu, manusia maupun Jin berkumpul dalam satu puncak tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu Aku memberikan apa yang mereka pinta, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada padaKu, kecuali seperti benang yang dicelup di lautan.
Wahai hambaKu… Sesungguhnya adalah amal-amalmu yang aku hitung bagimu, lalu Aku selaraskan kepadamu sesuai dengan hitungan, maka siapa yang mendapatkan kebajikan, hendaknya memuji Allah, dan siapa yang mendapatkan selain itu jangan memaki kecuali memaki dirinya sendiri."
(Hr Muslim dan lainnya)
Kamis, 27 Desember 2007
Ulama Yang Tolol, Dan Si Tolol Yang Alim
Inilah etika kita berguru atau bersahabat dengan seseorang, mestinya harus selektif agar berpengaruh positip dalam keseharian kita. Banyak orang pandai, alim, intelektual, tetapi sepanjang kepentingan-kepentingan dirinya lebih menonjol, sama sekali tidak patut untuk kita ikuti. Tidak peduli apakah dia ustadz, Kyai, cendekiawan muslim, ataukah seorang syeikh, manakala ia masih menuruti kepentingan nafsunya, sangat tidak layak untuk diikuti jejaknya.
Kepentingan nafsu itu seringkali justru dijadikan umpan syetan untuk berselingkuh dengan ilmu pengetahuan, kebenaran, agama, dan hal-hal yang suci. Artinya, mereka yang berselimutn kesucian, keulamaan, kecendekiawanan, jika masih menuruti hawa nafsunya, seperti popularitas, riya’, takjub diri, ingin dipuji, takabur, egois, berarti ia tetap saja seorang yang bodoh.
Sebaliknya sama sekali tidak bisa disebut orang bodoh, jika seseorang mampu mengekang hawa nafsunya, kepentingan dirinya, egoismenya, iri dengkinya, walau pun ia tampak seperti orang bodoh, hakikatnya ia adalah orang yang pandai. Karena betapapun hebat ilmu seseorang, sepanjang ia masih senang dengan hawa nafsunya, ia tidak akan pernah menyelamatkan kita dunia hingga akhirat.
Hamba Allah yang mampu mengekang nafsunya, walau pun ia bodoh, pasti memiliki tiga karakter:
1. Sadar dirinya.
2. Tawadlu’ (rendah hati) pada sesama.
3. Mencari kebenaran dengan jujur.
Menurut Ammar, ra, jika tiga perkara berkumpul pada diri seseorang, maka ia telah benar-benar mengakumulasi keimanannya: Sadar diri, menyiramkan kedamaian bagi semesta, dan menginfakkan hartanya walaupun ia miskin.”
Siapa yang mensahabati manusia model ini, ia akan mendapatkan tiga hal pula: Meraih kebajikan-kebajikan tersebut sebagai anugerah, karena seseorang itu sangat erat kaitannya dengan keyakinan agama sahabat dekatnya. Ia juga meraih rasa ringan dalam hatinya, dan mendapatkan keselamatan dunia dan agamanya.
Sementara orang yang rela dengan hawa nafsunya, akan melahirkan tiga sifat negatif. Kesombongan, tidak sadar dirinya dan aktif dengan rasa kebanggaannya. Bersahabat atau berguru pasdanya bisa melahirkan tiga hal pula: Menjadi budaknya, memayahkan diri dan terputus (tidak sampai tujuannya)putus akhirnya. Karena ia mengklaim kebenaran dirinya, yang sesungguhnya tidak layak. Karena itu ia tidak akan sampai meraih Ridho Allah,tidak mendapatkan ampunan Allah, bahkan tidak mau kembali dalam segala hal kepada Allah. Karena ia ia tidak layak untuk dikasihi.
Kalau kebetulan ia seorang yang ‘alim atau intelektual muslim, maka ilmu pengetahuannya justru akan memperburuk kepribadiannya,. Sebaliknya kalau ia bodoh, maka kebodohannya menjadi bencana baginya dan bagi sahabatnya. Kalau dia pemimpin, sama sekali kepemimpinannya tidak bermanfaat bagi dunia, agama dan akhirat. Karenanya, Sahl bin Abdullah menegaskan, “Jauhi tiga kelompok manusia: Para pembaca Al-Qur’an yang penuh dengan gaya pamer; orang-orang Sufi yang bodoh dan orang-orang diktator yang alpa dengan dirinya sendiri.”
Padahal seorang sahabat itu diharapkan memberikan tiga hal: Nasehat, Kasih sayang dan pertolongan.
Hakikat kebodohan itu sendiri beredar pada tiga hal.
1) Lari dari kebenaran
2) Mengikuti kebatilan
3) Memutuskan aturan dengan cara yang salah.
Inilah yang akan menimpa orang yang rela menuruti hawanafsunya. Sebaliknya, hakikat pengetahuan (ilmu) juga beredar pada tiga hal:
1) Beramal dengan benar
2) Menjauhi kebatilan
3) Memberikan porsi dengan kelayakannya.
Ketiga hal terakhir ini tentu tidak akan dijumpai kecuali pada mereka yang tidak rela pada nafsunya.
Husnudzon Kepada Allah
Husnudzon atau berbaik sangka kepada Allah, merupakan salah satu dasar utama kita membangun hubungan dengan Allah Ta’ala. Banyak hamba-hamba Allah yang menggugat Allah atas taqdir yang diterima dengan rasa pahit, lalu ia menggedor-gedor langitNya, agar dibuka pintu anugerah yang sesuai dengan selera si hamba ini.
Tetapi Ibnu Athaillah as-Sakandaru begitu jeli memandang soal Husnudzon kepada Allah ini, karena banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan psikologis ketika harus berbaik sangka kepada Allah terutama jika si hamba Allah ini tertimba takdir yang dirasakan tidak sesuai dengan keinginannya.
Di sinilah kita harus belajar Husnudzon kepada Allah melalui sifat keMaha Indahannya atas semua yang telah dilimpahkan kepada kita. Ketika seseorang terhalang untuk meraih apa yang diinginkannya, lalu terganjal di sana, ia protes kepada Allah. Protes ini muncul semata karena si hamba tidak bisa melihat hikmah dan keindahan Sifat Allah yang menyertai kegagalan itu. Padahal kegagalan itu adalah pemberian yang luar biasa, jika kita bisa memahaminya.
Namun untuk memahaminya juga tidak mudah. Oleh sebab itu, si hamba diarahkan, jika gagal memahami keMaha Indahan sifat Allah, minimal ia harus memahami melalui husnudzonnya kepada Allah atas anugerah yang selama ini dilimpahkan kepada hamba melalui amaliyah ibadahnya. Bahwa seorang hamba bisa beribadah, bisa berbuat baik, itu semua tidak lepas dari anugerah Allah. Tanpa anugerahNya, kita tidak bisa bekerjasama dengan Allah Ta’ala.
Bahkan Ibnu Athaillah menegaskan, bahwa semua yang terjadi ini, senantiasa kembali demi kebajikan kita semua. , dan segala yang berinteraksi dengan seluruh kehidupan kita sesungguhnya adalah anugerah Ilahi semata.
Kalau kita renungkan sejenak: Kita ini ada di dunia ini karena Dia, dan karena kebaikan dan anugerahNya pula. Kita diwujudkan dari situasi dan kondisi tidak ada, lalu menjadi ada. Kemudian Allah masih terus melimpahkan kita dengan kemuliaan, kenikmatan, dan kita dijadikan sebagai hamba beriman. Bahkan harus kita syukuri kita dijadikan sebagai manusia. Coba, seandainya kita ditakdirkn jadi binatang atau batu??
Kategori manusia berhusnudzon kepada Allah itu ada tiga:
Pertama, Husnudzon kepada Allah karena keagungan dan keindahan SifatNya.
Kedua, Husnudzon kepada Allah karena IhsanNya, atau kebajikanNya.
Ketiga, Husnudzon kepada Allah karena dua-duanya. Dan perilaku jiwa demikian ini, lebih sempurna dari kedua hal di atas.
Karena itu Rabiah Adawiyah sampai bersyair:
Cintaku kepadaMu terbagi dua
Cinta Asmara, dan Cinta karena Engkau layak Dicinta
Cinta Asmaraku padaMu, adalah kesibukanku mengingtatMu
Dan mengabaikan hatiku dari selain DiriMu.
Sedang Cinta yang Engkau layak Dicinta
Adalah tersingkapnya tiraiMu untukku
Hingga aku terus memandangmu
Lalu tak ada puja di sana
Tak ada pula di sini bagiku
Tetapi hanya kepadaMu Puja itu
Di sana
Dan disini.
Indah nian kata Rabiah. Semua itu karena Husnudzonnya kepada KekasihNya. Sebab apa saja yang dipandang dari kehidupan ini, tidak lain adah rasa CintaNya, Anugerah Kasih SayangNya kepadanya. Apa saja, dan dimana saja….
Rabu, 19 Desember 2007
Hujan Meteor di tahun 2008
Pada 2008 mendatang, meteor bakal beberapa kali menghujani bumi. Yang paling awal terjadi pada 4 Januari 2008, yakni hujan meteor quadrantids. Jumlah meteor yang terbakar di atmosfer bumi mencapai 100 per jam. Deklinasinya berada di 49 derajat.
“Karena lebih ke utara, dari Indonesia tidak bisa terlihat,” ujar peneliti utama astronomi astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (10/12/2007).
Pada 6 Mei 2008, akan terjadi hujan meteor eta aquarids, dengan jumlah 60 meteor per jam. Dari Indonesia, komet ini bagus untuk diamati mengingat deklinasinya condong ke belahan Bumi bagian selatan.
“Itu karena komet Halley yang mana titik radian meteor ini berasal dari rasi Aquarius,” jelas Thomas.
Hujan meteor perseid diperkirakan terjadi pada 13 Agustus 2007. Deklinasinya 58 derajat, sehingga hampir tidak terlihat karena terjadi jauh di utara. Saat peristiwa ini terjadi, ada 100 meteor yang terbakar di atmosfer setiap jamnya.
Meteor perseid berasal dari partikel yang berasal dari komet Swift Tuttle. Dinamakan Perseid dikarenakan terlihat seakan-akan berasal dari Rasi Perseus.
“Sedangkan hujan meteor orionid akan terjadi pada 21 Oktober 2008. Sebenarnya ini masuk dalam kelompok sedang. Namun kadang terlihat dari Indonesia,” sambung Thomas. Tumbukan meteor ini terjadi di deklinasi 16 derajat. Sekitar 20 meteor per jam terbakar di atmosfer Bumi. Peristiwa ini terlihat cukup jelas di Thailand.
Pertengahan November 2008, Bumi akan kembali menerpa hamparan debu angkasa yang dihasilkan komet Tempel Tuttle yang mendekati Matahari setiap 33 tahun sekali. Hujan meteor leonid dari rasi bintang Leo ini bisa dilihat di Australia dan Asia, termasuk Indonesia.
Pada 7-17 Desember 2008, akan terjadi hujan meteor puppid. Deklinasi tumbukan meteor ini dengan atmosfer bumi berada di -45 derajat. Sekitar 10 komet bakal terbakar di atmosfer Bumi.
Di bulan Desember 2008 juga terjadi hujan meteor geminid. Kumpulan debu dari asteroid 3200 Phaethon yang bertabrakan dengan atmosfer Bumi bersifat tersebar. Karena itu, rentang waktu terlihatnya meteor cukup lama.
Hujan meteor geminid termasuk kategori hujan meteor kelas satu, dan terlihat cukup jelas di negara-negara belahan bumi utara. Sebab bergeseknya debu dan gas di atmosfer bumi terjadi di deklinasi 33 derajat, sehingga lebih dekat dengan wilayah Bumi utara.
(nvt/nrl/detik)
Langganan:
Komentar (Atom)