Kamis, 25 September 2008

KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

Segala puji bagi Alloh Ta'ala Yang Mengaruniakan rezeki tanpa batas, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada
Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, kerabat, sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.

Saudaraku Muslim ! Alangkah banyaknya duka dan derita yang mengisi kehidupan ini. Ia memang tidak belas kasihan kepada siapapun. Dan tidak ada seorang pun yang bisa meneguk air yang benar-benar jernih dari gelas kehidupan ini. Dalam kehidupan ini, manusia beralih dari keadaan-keadaan bahagia kepada keadaan-keadaan menderita. Tidak ada bedanya, yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. Penjara-penjara kehidupan dan beban-beban beratnya berbeda-beda tingkatan. Ada yang kecil dan berlangsung beberapa saat saja, ada pula yang besar, dan berlangsung dalam masa yang panjang.

Saudaraku Muslim ! Ini adalah gambaran dari sebagian derita kehidupan itu, yang dialami oleh sebagian orang diantara kita, yang kepahitannya mereka rasakan dalam masa yang panjang ! Kepahitan yang dirasakan oleh orang-orang papa dan lemah itu, yang lebih dulu merasakan pahitnya kehidupan sebelum manisnya. Tahukah anda, siapa orang-orang papa itu ? Mereka adalah anak-anak yatim! Mereka adalah anak-anak, yang kehilangan sosok yang mencarikan nafkah bagi mereka sebelum mengerti apa itu nafkah, apa itu pekerjaan. Bahkan mereka adalah anak-anak yang kehilangan sosok yang membimbing mereka, sebelum mengenal apa-apa. Merekalah anak yatim ! Anak yang dikejutkan oleh kematian ayahnya, sebelum merasakan manisnya kasih sayang ayah, sebelum mereka merasakan perlindungan tangan yang perkasa itu ! Saudaraku ! Anda sudah tahu, siapakah anak yatim itu ?! Wahai anda yang memiliki hati yang penyayang ! Tahukah Anda, apa kewajiban kita terhadapnya ?

MENYANTUNI ANAK YATIM ADALAH AKHLAK MULIA

Saudaraku Muslim ! Islam telah mendorong pemeluknya agar memiliki akhlak mulia. Salah satu akhlak mulia itu adalah menyantuni anak yatim. Sesungguhnya, anak yatim adalah manusia yang paling membutuhkan pertolongan dan kasih sayang. Karena ia adalah anak yang kehilangan ayahnya pada saat ia sangat membutuhkannya. Ia membutuhkan pertolongan dan kasih sayang kita, karena ia tidak mungkin mendapatkan kasih sayang ayahnya yang telah tiada. Jika anda melihat seseorang yang penyayang kepada anak-anak yatim dan menyantuni mereka, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang yang berbudi dan berakhlak mulia. Suatu ketika Saib bin Abdulloh rodhiyallohu 'anhu datang kepada Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam, maka Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

"Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, laksanakan pula ia dalam masa keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim, dan berbuat baiklah kepada tetangga." [HR.Ahmad dan Abu Dawud, Shohih Abu Dawud, Al-Albani : 4836]

Dalam sebuah atsar disebutkan riwayat dari Daud 'alaihissalam, yang berkata :

"Bersikaplah kepada anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang." [HR. Bukhori]

Saudaraku muslim ! Kasih sayang dan berbuat baik kepada anak yatim, sebagaimana yang telah saya katakan kepada anda, adalah sebagian dari akhlak dan moralitas orang-orang yang mulia. Itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh seorang lelaki yang mulia, yang menghimpun banyak budi pekerti mulia, yang mencintai kebajikan. Abdullah bin Umar rodhiyallohu 'anhu tidak pernah memakan makanan kecuali dimeja makannya ada seorang anak yatim yang makan bersamanya. Jadilah orang seperti itu, saudaraku ! Seorang yang penyantun, lemah lembut, dan berupaya berbuat kebaikan kepada anak yatim, mengusap air mata mereka dengan tangan dan harta anda serta memasukkan perasaan gembira ke dalam hati mereka. Ketahuilah, bahwa jika anda mendapat taufiq untuk melaksanakan itu, maka anda benar-benar manusia yang beruntung. Yang berhak mendapat gelar "Seorang yang Berbudi".

KEPADA ANDA YANG INGIN MENEMANI NABI DI SURGA

Saudaraku muslim ! Masuk surga adalah kesuksesan paling tinggi yang diraih oleh orang-orang yang beriman. Bagaimana pula dengan menemani Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam didalamnya? Itu adalah derajat yang akan diraih oleh orang-orang yang menyantuni anak yatim. Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini", Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. [HR. Bukhori].

Imam Ibnu Bathol rohimahulloh berkata : "Orang yang mendengar hadis ini wajib melaksanakannya, agar ia bisa menjadi sahabat Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam di surga. Di akhirat, tidak ada kedudukan yang lebih utama dari itu." Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : "Isyarat ini cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Nabi, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah." Saudaraku muslim ! Tahukah anda, apa hasil yang akan diperoleh dengan menyantuni dan mengasihi anak yatim, apa sikap anda, saudaraku, terhadap kebaikan ini ? Jika anda termasuk orang-orang yang mampu, apakah anda pernah berpikir untuk menyantuni seorang anak yatim, sehingga anda bisa menjadi sahabat nabi shollallohu 'alaihi wa sallam di surga. Untuk menyantuni anak yatim anda tidak harus memiliki kekayaan yang melimpah. Melainkan, siapa yang memungut seorang anak yatim, memberinya makanan dengan makanan yang sehari-hari yang dimakannya, memberinya minum dengan minuman yang bisa diminumnya, maka ia akan memperoleh kedudukan tersebut. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orang tua yang muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga." [HR. Abu Ya'la dan Thobroni, Shohih At Targhib, Al-Albaniy : 2543].

Wahai anda yang ingin memperoleh apa yang bermanfaat bagi dirinya, jika anda mendapat kesempatan untuk menyantuni anak yatim, jangan sekali-kali anda sia-siakan. Jika anda tidak menyukai hal itu dan menyia-nyiakannya, maka pikirkanlah pahala bagi orang yang menyantuni anak yatim. Tidakkah anda ingin menjadi sahabat Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam di sorga ?!.

MULIAKANLAH ANAK YATIM, NISCAYA HATIMU MENJADI LUNAK DAN KEBUTUHANMU TERPENUHI

Saudaraku muslim ! Jika anda mengeluhkan hati anda yang keras, maka menyantuni anak yatim merupakan sarana yang bisa menjadikan hati lunak. Ia adalah obat yang diwasiatkan oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam yang telah diutus dengan membawa petunjuk dengan kebenaran shollallohu 'alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Darda' rodhiyallohu 'anhu yang berkata :

"Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi shollallohu 'alaihi wa sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya : sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi." [HR Thobroni, Targhib, Al Albaniy : 254]

Saudaraku Muslim ! Sesungguhnya, mengasihi anak yatim merupakan sarana untuk melunakkan hati dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan. Sebab, orang yang mengasihi anak yatim telah memposisikan diri seperti ayahnya. Seorang ayah, secara naluriyah memiliki karakter sayang dan mengasihi anak-anaknya. Adapun orang yang mengasihi anak yatim memiki satu sifat lain, yaitu mengasihi anak yang bukan anak kandungnya. Barang siapa keadaannya seperti itu maka dihatinya terhimpun sarana-sarana yang bisa melembutkan hatinya, sekalipun sebelumya merupakan hati yang keras. Tidak diragukan lagi ini merupakan obat yang mujarab. Anda tidak akan pernah mendapati orang yang menyantuni anak yatim, kecuali pasti memiliki hati yang pengasih. Kebalikan dari ini, anda tidak akan menjumpai seorangpun yang tidak mengasihi anak yatim, kecuali ia memiliki hati yang keras dan berakhlak buruk. Manfaat lain dari tindakan mengasihi anak yatim yang telah dikabarkan oleh nabi shollallohu 'alaihi wa sallam kepada seorang yang bertanya kepada beliau adalah : bahwa meyantuni anak yatim merupakan sarana terpenuhimya kebutuhan dan terwujudnya apa yang dicari Sesungguhnya, orang yang berbuat kebaikan kepada anak orang lain adalah orang yang telah memasukkan rasa gembira dihati mereka. Tidak diragukan lagi, Alloh pasti tidak akan menyia-nyiakannya, karena Alloh Ta'ala Maha Pengasih dan Mencintai semua orang yang pengasih. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :

orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar Rohman (Yang Maha Pengasih) Tabaaroka wa ta'ala. Kasihilah siapa yang ada dibumi niscaya engkau dikasihi oleh yang di langit." [HR. Abu dawud, Tirmidzi dan lain-lain. As silsilatu shohihah : 925].

Saudaraku muslim! Kasihilah anak yatim, niscaya Alloh akan memperbaiki urusan dunia dan akhiratmu.

BAGAIMANA CARA BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM

Saudaraku muslim ! Berbuat baik kepada anak yatim, bisa dengan beberapa cara :

  1. Memberinya makan dan pakaian, serta menanggung kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Di atas telah disampaikan kepada anda keutamaannya.
  2. Mengusap kepalanya serta menunjukkan kasih sayang kepadanya. Tindakan ini akan mempunyai pengaruh besar terhadap kejiwaan anak yatim. Ibnu Umar rodhiyallohu 'anhu jika melihat anak yatim, beliau mengusap kepalanya dan memberinya sesuatu.
  3. Membiayai sekolahnya, sebagaimana seseoang ingin menyekolahkan anaknya.
  4. Mendidiknya dengan ikhlas, sebagaimana keikhlasanya dalam mendidik anak kandungnya sendiri.
  5. Jika ia melakukan perbuatan yang mengharuskan di beri hukuman maka bersikap lemah-lembut dalam mendidiknya.
  6. Bertakwa kepada Alloh dalam mengelola harta anak yatim, jika anak yatim itu mempunyai harta kekayaan. Jangan sampai hartanya di habiskan karena menginginkan agar anak yatim itu kelak tidak meminta hartanya kembali. Sebaliknya, hartanya harus di jaga, sehinga ketika ia telah dewasa, harta tersebut dikembalikan kepadanya.
  7. Mengembangkan harta anak yatim dan bersikap ikhlas di dalamnya, sehingga hartanya tidak habis oleh zakat.

Saudaraku Muslim ! Inilah beberapa gambaran tentang cara berbuat baik kepada anak yatim. Berbuat baik kepada anak yatim tidak hanya diperintahkan kepada orang-orang tertentu, akan tetapi setiap muslim diperintahkan untuk itu sebagaimana ia diperintahkan untuk melaksanakan semua amal yang baik dan sholih. Jika Alloh ta'ala mengetahui ketulusan niat seorang hamba, niscaya Dia akan membantunya dalam melaksanakan perbuatan baik. Maka, hendaklah engkau berkeinginan kuat untuk melasanakan amal-amal shalih, walaupun baru sekedar berniat di hati sampai suatu saat Alloh memberikan kesempatan anda untuk melakukan amal solih. Sungguh, tidak ada orang yang lebih lemah daripada orag yang tidak mampu menyelinapkan niat di hatinya untuk melasanakan amal-amal sholih.

KEPADA SETIAP MUSLIM

Saudaraku Muslim ! Berbuatlah baik kepada anak yatim, selain merupakan akhlak yang mulia yang diserukan oleh Islam, ia juga hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang berhati penyayang dan berjiwa bersih. Masyarakat muslim, adalah masyarakat yang diikat oleh ajaran-ajaran mulia yang diserukan oleh Islam. Ia adalah masyarakat yang telah digambarkan oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dalam penggambaran beliau yang indah, ketika beliau bersabda :

"Engkau melihat orang-orang beriman itu dalam hal kasih sayang dan saling mencintai di antara mereka, adalah seperti satu tubuh, jika ada satu organ yang mengeluh (sakit), maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak tidur dan panas." [HR. Bukhori dan Muslim, redaksi ini terdapat dalam riwayat Bukhori.]

Penggambaran ini memberitahukan kepada anda, bagaimana seyogyanya keadaan dalam masyarakat muslim ini. Anak yatim adalah bagian dari masyarakat muslim itu. Ia berhak terhadap apa yang menjadikan hak anggota masyarakat muslim lainnya, dan berkewajiban sebagaimana kewajiban masyarakat anggota muslim lainnya. Seluruh kaum muslimin wajib berbuat baik kepada anak yatim, menyantuninya, dan menggantikan kasih sayang ayahnya, serta memberikan kepadanya apa yang biasa mereka berikan kepada anak-anak dan istri mereka.

Saudaraku Muslim ! Tidaklah sulit bagi anda untuk memungut seorang anak yatim, memberi makanan seperti yang biasa anda makan sehari-hari, memberi pakaian seperti pakaian yang biasa anda pakai, dan menjadikannya sebagai salah seorang anak anda. Hendaklah, perbuatan baik anda ini didasarkan niat tulus untuk mencari ridho Alloh Ta'ala. Dengan harapan, anda bisa menjadi salah seorang dari mereka yang digambarkan oleh Alloh Ta'ala dalam firmannya :

"Dan merka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah,kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada suatu hari yang (dihari) orang-orang bermuka masam penuh kesakitan. Maka Alloh memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepda mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra." [Al-Insan : 8-12]

Semoga Alloh memberikan taufiq kepadaku, kepada anda, saudaraku muslim, untuk melakukan amal-amal sholih. Semoga Alloh menolongku, juga anda semua untuk tetap melaksanakan amal-amal sholih itu sampai tiba kematian. Segala puji bagi Allah swt. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi kita, Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, juga kepada segenap kerabat dan sahabat serta pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.

[Dinukil oleh Abu Mitfah Al-Pacitany dari buku Al-Ihsan Ilal Yatiim dengan terjemahan Keutamaan Menyantuni Anak Yatim karya Azhari Ahmad Mahmud]

 

Bersihin Sampah Lageee... Ni biangnya..

Ni biangnya neeehhhh… GRRRRRR!!!!

Dah nyampah.. materi tulisannya pun juga Cuma sekedar SAMPAH !!!! Hueksss!!

 

NONOKMUHAMAD wrote on Jun 30 

 

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

 

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

 

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

 

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

 

Perbedaan Dalam Islam

 

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

 

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

 

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

 

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

 

1. Cara Ibadah

 

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.

* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan mendouble dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.

* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.

* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

 

2. Mesjid

 

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.

* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

 

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

 

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

 

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

 

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

 

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

 

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

 

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

 

Apa yang salah dengan Islam?

 

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

 

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

 

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

 

Hukum Alam

 

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

 

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

 

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

 

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

 

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

 

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

 

replyplayboyislam wrote on Mar 20

Nabi Muhammad Akan Menangis

 

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

 

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

 

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

 

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

 

Perbedaan Dalam Islam

 

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

 

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

 

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

 

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

 

1. Cara Ibadah

 

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.

* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan mendouble dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.

* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.

* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

 

2. Mesjid

 

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.

* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

 

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

 

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

 

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

 

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

 

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

 

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

 

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

 

Apa yang salah dengan Islam?

 

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

 

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

 

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

 

Hukum Alam

 

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

 

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

 

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

 

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

 

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

 

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

 

replyplayboyislam wrote on Mar 20

Nabi Muhammad Akan Menangis

 

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

 

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

 

DELETE REPLY

NONOKMUHAMAD wrote on Jun 30

 

 

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

 

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

 

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

 

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

 

Perbedaan Dalam Islam

 

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

 

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

 

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

 

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

 

1. Cara Ibadah

 

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.

* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan mendouble dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.

* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.

* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

 

2. Mesjid

 

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.

* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

 

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

 

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

 

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

 

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

 

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

 

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

 

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

 

Apa yang salah dengan Islam?

 

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

 

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

 

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

 

Hukum Alam

 

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

 

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

 

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

 

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

 

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

 

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

 

replyplayboyislam wrote on Mar 20

Nabi Muhammad Akan Menangis

 

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

 

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

 

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

 

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

 

Perbedaan Dalam Islam

 

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

 

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

 

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

 

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

 

1. Cara Ibadah

 

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.

* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan mendouble dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.

* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.

* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

 

2. Mesjid

 

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.

* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

 

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

 

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

 

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

 

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

 

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

 

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

 

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

 

Apa yang salah dengan Islam?

 

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

 

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

 

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

 

Hukum Alam

 

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

 

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

 

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

 

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

 

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

 

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

 

replyplayboyislam wrote on Mar 20

Nabi Muhammad Akan Menangis

 

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

 

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

 

 

WAWN1782 wrote on Jun 27

to mas "Anjing" sori gw hapus..postingannya yah... gileeee...

gw copas ke word ampe 284 halaman... ga skalian bikin novel aja mas...

thanx.. gi gw baca nih...